Selasa, 20 April 2010

penelitian tindakan kelas sd

LAPORANPENELITIAN TINDAKAN KELAS
( PTK )


PENERAPAN MODEL PEMBELAZARAN INTERAKTIF
DENGAN METODE DRAMA PADA
MATA PELAZARAN IPS KELAS I
DI SDN SUNYARAGI I KOTA CIREBON






Disusun oleh :
Hz. ERAWATI
NIP : 195412171974032002








PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pendidikan di Sekalah Dasar bertuzuan untuk menghasikan lulusan yang kompeten dan cerdas sehngga dapat melanzutkan pendidikan ke zenzang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelazaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa; dan siswa terlibat langsung dalam pembelazaran tersebut. Pembelazaran yang dilakukan seharusnya menggunakan pendekatan strategi dan metode yang memudahkan siswa memahami materi yang diazarkan.
Mata pelazaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelazaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama; sisi-kultural; bahasa; usia; dan suku bangsa.
Banyak faktr yang menyebabkan hasil belazar IPS siswa rendah yaitu faktor internal dan faktor eksternal siswa. Faktor internal antara lain ; integelensi; kebiasaan; dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar sIswa; seperti; guru Pembina kegiatan belazar; strategi pembelazaran; sarana dan prasana; kurikulum dan lingkungan. Siswa kurang memahami dan merasa bsan apabila guru menyampaikan materi dengan meted ceramah. Dari masalah-masalah yang dikemukakan diatas; guru perlu merefleksikan diri untuk dapat mengetahui faktr-faktr penyebab ketidak berhasilan siswa dalam Mata Pelazaran IPS kelas I di SDN SUNYARAGI I. Berdasarkan hal tersebut diatas; model pembelazaran interaktif dengan metode drama menzadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belazar siswa.
Menurut E.Mulyana Pembelazaran aktif dengan mencptakan suatu kondisi dimana siswa dapat berperan aktif ; sedangkan guru sebagai fasilitatr. Pembelazaran harus dibuat dalam kndisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belazar mengazar (KBM). Dalam hal ini pembelazaran interaktif dengan metode drama menadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belazar siswa.
Berdasarkan uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini; dirancang untuk mengkai penerapan pembelaa ran mdel interaktif dengan metode drama dalam meningkakan kemampuan memahami dan menerapkan bahan dalam Mata Pelaaran IPS.

1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut diatas; maka dapat dirmuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana desain mdel pembelazaran interaktif dengan metode drama dalam pembelazaran IPS di SDN SUNYARAGI I Cirebon ?
2. Bagaimana penerapan mdel pembelazaran interaktif dengan metode drama dalam pembelazaran IPS di SDN SUNYARAGI I Cirebon ?
3. Bagaimana kinerza siswa dalam pembelazaran menggunakan metde interaktif dengan metode drama dalam pembelazaran IPS di SUNYARAGI I Cirebon ?
1.3. Pemecahan Masalah
Permasalahan rendahnya hasil belazar IPS kelas I di SDN SUNYARAGI I perlu segera ditanggulangi; hasil penelitian mengungkapkan bahwa tingkat pemahaman materi masih rendah; sehingga untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelazaran; menerapkan model interaktif dengan metode drama sebagai alternatif untuk dapat meningkatkan perolehan hasil belazar IPS.
1.4. Tuzuan Penelitian
Tuzuan penelitian ini adalah untuk menerapkan mdel pembelazaran interaktif dengan metode drama pada mata pelaaran IPS; sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatkan proses pembelazaran.
Secara khusus tuuan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Mendesain mdel pembelazaran interaktif dengan metode drama dalam pembelazaran IPS.
2. Menerapkan mdel pembelazaran interaktif dengan metode drama dalam pembelazaran IPS.
3. Meningkatkan kinera siswa dalam pembelazaran dengan menggunakan mdel pembelazaran interaktif dengan metode drama .
1.5. Manfaat Hasil Penelitian
Secara teritis dan praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :
1. Memperbaiki prses belazar mengazar dalam pelaaran IPS di Seklah Dasar.
2. Mengembangkan kualitas guru dalam mengazarkan pendidikan kewarganegaraan di Seklah Dasar.
3. Memberikan alternative kegiatan pembelazaran Pendidikan Kewarganegaraan.

BAB. II
KAZIAN PUSTAKA

1. Definisi Belajar
Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. (Margaret Gredler, terj Munandar, 1994; hlm 1). Dengan belajar peserta didik dapat mengetahui hal-hal yang baru dan dapat meningkatkan pengetahuan yang dimilikinya, mengubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang salah menjadi benar, dan dari kurang baik menjadi baik. Seperti yang dikatakan oleh Riberu, bahwa belajar merupakan proses dan dalam proses ini orang berkenalan dengan salah satu pola laku atau memperbaiki salah satu pola laku yang telah dikuasainya. (Riberu, 1982; hlm 10) Selain itu Riberu juga mengatakan, belajar bisa berarti berkenalan dengan atau memperbaiki pemikiran, berkenalan dengan atau memperbaiki tuturan bicara, berkenalan dengan atau memperbaiki tindakan/kegiatan. (Riberu, 1982; hlm 11)
Dengan kata lain, belajar merupakan suatu upaya untuk memperbaiki, mengembangkan, bahkan meningkatkan kemampuan afektif, psikomotorik, dan kinestetik peserta didik.
Kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik harus seimbang antara otak kanan dan kiri. Untuk mencapai hal tersebut, sebaiknya proses belajar tidak hanya dilaksanakan dengan metode konservatif (ceramah/DDCH -> Duduk, dengar, catat, dan hafal), tetapi juga metode-metode lain yang dapat merangsang keaktifan peserta didik.
Belajar bisa melalui pengalaman melibatkan peserta didik secara langsung dalam masalah atau isu yang dipelajari. Sehingga peserta didik dapat lebih aktif dan menerima pelajaran dengan baik.Bukan sebaliknya cepat jenuh, bosan, dan sebagainya
Belajar aktif dan menyenangkan (biasa dikenal dengan ‘Learning/ Learning by Fun’) dapat menstimulus kreativitas peserta didik dalam proses belajar.
2; Metode pembelajaran
Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan,langkah- langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
3;Model pembelajaran
Sunarwan (1991) dalam Sbry Sutikn (2004 : 15); model merupakan gambaran tentang keadaan nyata. Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran..
Pengembangan model pembelajaran pada pendidikan guru didasari oleh kecenderungan penelitian pendidikan guru (Pintrich, P.R, 1990). yang berupaya mempertemukan model mengajar guru dengan model belajar siswa (social-cognitive perspectives), menekankan guru sebagai pelajar dan peneliti (teacher as learner and reseacher).
4;Model Pembelazaran Interaktif
Model pembelazaran interaktif sering dikenal dengan pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa mau bertanya dan kemudian menemukan zawaban dari pertanyaan mereka sendiri (Faire& Cosgrove dalam Herlen; 1992).

5; Penerapan model dan metode
Pembelazaran model interaktif dengan metode drama harus di kerzakan secara berkelompok; tidak bisa di kerzakan sendiri-sendiri; karena dalam metode drama minimal diperlukan kerzasama dua siswa. Disamping ituu kerza kelompok dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit sambil pada saat yang bersamaan sangat berguna menumbuhkan kemauan kerza sama. Kerza kelompok. Sedangkan peran guru lebih ditekankan sebagai organisator kegiatan belazar – mengazar; sumber informasi bagi siswa; pendorong bagi siwa untuk belazar; serta penyedia materi dan kesempatan belazar bagi siswa.
6;Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Menurut Suharsimi A. (2004) ada tiga kata yang membentuk pengertian PTK, yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal, serta menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan adalah kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru. Dalam hal ini kelas bukan wujud ruangan tetapi diartikan sebagai sekelompok siswa yang sedang belajar.
Kasihani (1999) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan PTK adalah penelitian praktis, bertujuan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran di kelas dengan cara melakukan tindakan-tindakan. Upaya tindakan untuk perbaikan dimaksudkan sebagai pencarian jawab atas permasalahan yang dialami guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Jadi masalah-masalah yang diungkap dan dicarikan jalan keluar dalam penelitian adalah masalah yang benar-benar ada dan dialami oleh guru.
Sedangkan menurut Suyanto (1997) secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu, untuk memperbaiki dan atau meningkatkan praktekpraktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Oleh karena itu PTK terkait erat dengan persoalan praktek pembelajaran sehari-hari yang dialami guru. Dalam PTK guru dapat meneliti secara mandiri atau bersama dengan tenaga kependidikan yang lain (secara kolaboratif) terhadap proses dan produkpembelajaran secara reflektif di kelas. Dengan PTK, guru dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran agar lebih efektif. PTK juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek. Alasannya, setelah PTK guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai pembelajaran yang selama ini dilakukan apakah cocok dengan teori belajar mengajar dan dapat diterapkan dengan baik di kelasnya. Melalui PTK guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan proses dan produk pembelajaran agar lebih efektif dan optimal.
Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.

BAB I METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian
Setting penelitian dilakukan selama 2 bulan yakni Juli s.d Agustus Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian tersebut pada semester I Tahun pelajaran 2008/2009.

B. Subyek Penelitian
Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas I SD Negeri SUNYARAGI I kecamatan Kesambi, Kota Cirebon jumlah siswa 40 orang.


C . Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dengan mengikuti prsedur penelitian berdasarkan prinsip Kemmis S; MC Tggar R (1998) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning); tindakan (action); observasi (observation); refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus.
1. Prosedur Penelitian ;
Penelitian tindakan kelas ini terdiri atas dua siklus kegiatan sebagai berkut :
a. Siklus 1
Pada siklus pertama ini Model permbelazaran interaktif dengan metode drama memiliki beberapa langkah : 1) Persiapan; sebelum pembelazaran dimulai guru menugaskan siswa untuk membaca materi yang akan dibahas; guru memberi pengarahan; menerangkan dan membagi kelmpok untuk mementaskan drama. 2). Kegiatan Penerapan; pada saat pembelazaran (mementaskan drama) di kelas; siswa lain mengamati ; melihat siswa lain yang sedang mementaskan drama. 3). Pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar materi drama ‘hidup rukun dilingkungan keluarga’. 4) Penyelidikan; guru dan siswa memilih pertanyaan yang benar-benar tidak dipahami untuk dieksplorasi lebih zauh. 5). Refleksi; pada pertemuan berikutnya dikelas dibahas hasil penyelidikan mereka; dilakukan perbandingan antara contoh hidup rukun dilingkungan keluarga dan cnth kehidupan keluarga yang tidak harmnis. Untuk memantapkan pemahaman materi; pada akhir kegiatan; guru memberi tugas kepada siswa berupa lembar kerza siswa (LKS).
b. Siklus 2
A. Perencanaan (planning)
• Hasil refleksi dievaluasi; didiskusikan; dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelazaran berikutnya.
• Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelazaran.
• Merancang perbaikan 2 berdasarkan refleksi siklus 1.
B. Tindakan (action)
• Melakukan analiss pemecahan masalah
• Melaksanakan tindakan perbaikan 2 dengan memaksmalkan penerapan mdel pembelazaran interaktf dengan metode drama.
C. Pengamatan (observation)
• Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelazaran interaktif dengan metode drama.
• Mencatat perubahan yang teradi
• Menilai hasil tindakan.
D. Refleksi (reflection)
• Merefleksikan proses pembelazaran interaktif dengan metode drama.
• Merefleksi hasil belazar siswa dengan penerapan mdel pembelazaran interaktif dengan metode drama.
• Menganalisis tema dan hasil akhir penelitian
• Rekomendasi.
Indicator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemazuan minimal 10% dari siklus 1.
Dari tahap kegiatan pada siklus 1 dan 2; hasil yang diharapkan adalah :
• Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta aktif terlibat dalam proses pembelazaran IPS.
• Terzadi peningkatan prestasi siswa pada mata pelaaran IPS.

2. Analisa Data
Data yang diperleh dianalisis dan dideskripsikan sesuai permasalahan yang ada dalam bentuk laporan hasil penelitian. Rancangan pembelazaran interaktif dengan metode drama dilakukan validasi oleh kepala sekolah. Untuk kreativitas siswa dalam pembelazaran digunakan observasi dan angket serta perolehan hasil belazar siswa digunakan deskripsi kuantitatif.


























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


• Hasil secara kualitatif
Pada Penelitian Tindakan kelas ini ,penggunaan metode drama pada pelazaran IPS dengan tema hidup rukun dilingkungan keluarga memberikan hasil yang optimal , meski tahapannya hanya dua siklus , ternyata nampak adanya perubahan dengan indicator yakni ;antusias siswa untuk belajar cukup positif , semua siswa terlibat aktif dalam mempertunzukan drama dengan hasil yang memuaskan yakni adanya kesesesuaian antara tema dengan drama yang dipertontonkan sehingga tuzuan pembelazaran IPS dengan tema hidup rukun dilingkungan keluarga ini dapat dipahami oleh para siswa dengan sempurna; Ketika penulis memberi kesempatan kepada siswa untuk menuliskan persepsi mereka mengenai cara belajar memahami konsep hidup rukun dilingkungan keluarga yang diaplikasikan menggunakan metode drama; sebagian besar menyatakan senang belajar dengan menggunakan metode tersebut. Bahkan berdasarkan angket yang penulis sebarkan ; jawaban mereka 85% menyatakan bahwa belajar dengan metode drama lebih menyenangkan dan lebih mudah dipahami
• Hasil secara kuantitatif
Prestasi belazar siswa meningkat setelah mengalami pembelazaran interaktif dengan metode drama. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 6;00; nilai rata-rata kelompok 6;50. pada siklus ke 2 nilai rata-rata siswa 6;57; dan nilai rata-rata kelompok 7;65. sedangkan pada siklus ke 3 nilai rata-rata sswa 7;98 dan nila rata-rata kelmpok 7;38




BAB V
KESIMPULAN

1. Guru menerapkan model pembelazaran interaktif dengan metode drama pada mata pelazaran IPS. Pada awalnya siswa mengalami kesulitan dalam kerza kelompok mementaskan drama;siswa masih malu-malu dan kurang percaya diri; ada yang lupa dialog drama yang akan dipentaskan. Tetapi lama kelamaan setelah di beri support dan diarahkan oleh guru mereka menadi lebih aktif dan percaya diri; lebih memahami materi yang disampaikan.
2. Kinerza siswa meningkat setelah pembelazarn IPS menggunakan pembelazaran interaktif dengan metode drama.
3. Dari data-data yang dihasilkan baik secara kuantittif maupun kualtitatif diperoleh bahwa pembelazaraan IPS dengan menggunakan metode drama cocok diterapkan pada siswa kelas I sekolah dasar SUNYARAGI I


SARAN
1. PTK ini sebaiknya dilakukan oleh guru dengan penuh kesadaran dan tanggung zawab sebaga pendidik; karena penerapan model pembelazarn interaktif dengan metode drama memerlukan kemauan dan pengorbanan yang besar; baik waktu ; tenaga dan pikiran.
2. Guru harus dapat menilai dirinya sendiri sebelum melakukan penilaian kepada siswanya.
3. Guru harus mengetahui kelemahan dan kekurangnnya dalam pembelazarannya berusaha untuk mengatasinya dan menemukan solusi yang terbaik serta mengantisipasi apabila dalam pembelazaran mengalami kendala dan masalah.














DAFTAR PUSTAKA


• Arifin Zainal (1994). Pendekatan DalamProses belazar Mengazar. Remaza Riosdakarya. Bandung.
• Hasiban;.; Mdion (1998); proses belazar mengazar. CV. Remaa Karya. Bandung.
• Depdikbud diren Dikti; Pryek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
• Mulyasa; E (2005). Menzadi guru professional: menciptakan Pembelazaran Kreatif dan Menyenangkan. Remaza Rosdakarya. Bandung.
• Slamet (1998). Belazar dan factor-faktor yang mempengaruhinya; Bina Aksara. zakarta.
• Indrastuti dkk(2008)Ilmu Pengetahuan Ssial (IPS) SD kelas 1.Pusat Perbukuan Depdiknas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar